Tron Legacy (2010), Terperangkap di Alam Digital

“Wifi, apa itu?”
“Dunia digital yang menghubungkan manusia tanpa kabel.”
“Oh, aku sudah memikirkannya tahun delapanpuluhan hahaha.”


Itulah sepenggal obrolan Sam ketika akhirnya bertemu kembali dengan sang ayah, Kevin Flynn. Kevin adalah pembuat video game handal. Kepada Sam ketika masih kanak-kanak dia bercerita mengenai salah satu kreasinya. Dia menyebut sesosok karakter bernama Clu, dan sebuah dunia bernama Grid. Kevin berjanji akan menunjukkan kepada Sam dunia rancangannya itu.

Tapi, malam itu, pada 1989, setelah meninggalkan kamar Sam, Kevin menghilang. Lalu waktu melompat ke masa ketika Sam telah berumur 27 tahun. Sebuah pesan misterius datang kepadanya, yang membuatnya mengunjungi kembali kantor lama sang ayah, dan dia menemukan sebuah ruangan penuh komputer. Dan, cling! Sam pun lenyap, dan muncul kembali dalam dimensi dunia yang berbeda. Serombongan makluk menjemputnya.

Sam dibawa ke sebuah arena yang mengingatkan kita pada pertarungan para Gladiator zaman Romawi. Bedanya, yang harus dihadapi oleh Sam adalah makluk-makluk program. Atau, ini seperti permainan Quidditch dalam ‘Harry Potter’ –bedanya, para penyihir cilik itu bersenjata Snitch, sedangkan makluk-makluk di Grid bersenjata cakram yang bercahaya.

Di tengah usaha Sam bertahan dan menyelamatkan diri, seorang perempuan cantik dan seksi muncul menyelamatkannya, dan mengantarkannya pada seorang lelaki tua, yang tak lain ternyata Kevin, ayahnya!

‘Tron Legacy’ adalah fantasi fiksi ilmiah generasi digital. Lupakan alien yang menyerbu bumi, atau obsesi pada kehidupan di Planet Mars. Selamat datang di “Middle Earth” generasi video game. Dalam cerita horor kita sudah cukup akrab dengan imajinasi yang menggambarkan seorang penulis novel seram yang terhisap masuk ke dalam dunia karangannya.

Pada ‘Tron Legacy’, Kevin sang pencipta video game, dan Sam anaknya, terperangkap ke dalam permainan yang dirancangnya. Para user harus menghadapi program-program ciptaannya sendiri. Seperti Dokter Frankenstein yang dikejar-kejar oleh monster gagal yang ia ciptakan dari potongan-potongan tubuh. Clu adalah monster Frankenstein alam digital yang kecewa dan menuntut tuannya.

Sutradara Joseph Kosinski, berdasarkan naskah Edward Kitsis dan Adam Horowitz, terasa tidak mulus menuangkan fantasi itu. Cerita yang lemah membuat alur berjalan lambat dan membosankan, terutama pada bagian awal. Konflik yang tak begitu tajam pun diselesaikan dengan mudah. Namun, kita dimanjakan dengan panorama Grid yang futuristik, dengan arsitektur dan interior yang mewah, serta kendaraan-kendaraan yang hebat.

Film ini merupakan sekuel ‘Tron’ yang dirilis pada 1982, ketika Garrett Hedlund yang kini memerankan Sam Flynn belum lahir. Sementara, Jeff Bridges tampil kembali memerankan Kevin Flynn, dan Clu sekaligus. Aktor Michael Sheen muncul sebagai cameo, memerankan tokoh Zuse, sekutu Clu, dan menjadi salah satu bagian paling menarik dari film ini. Zuse adalah makluk program berambut putih dengan gaya mirip David Bowie.

Olivia Wilde memerankan tokoh Quorra, “murid” Kevin yang menolong Sam, namun secara keseluruhan kehadirannya terasa sekedar tempelen. Mengikuti tren Hollywood saat ini, sebagian adegan dari film ini direkam dengan kamera 3D. Tapi, hasilnya tidak efektif. Jadi daripada mengganggu mending simpan saja kacamata 3D yang dibagikan ketika memasuki bioskop. (mmu/mmu)

About msidikp

Belajar Nge-Blog

Posted on Desember 18, 2010, in General Info. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: